Bos Foundation samboja

Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation didirikan pada tahun 1991 oleh Dr. Willie Smits sebagai tanggapan terhadap meningkatnya jumlah orangutan korban perdagangan satwa liar ilegal di Kalimantan Timur. Organisasi ini kemudian disahkan secara hukum sebagai yayasan di Indonesia pada tanggal 16 Desember 1998. 

Misi Utama

Sejak awal berdirinya, misi utama BOS Foundation adalah konservasi orangutan Kalimantan yang terancam punah dan habitatnya, melalui pendekatan yang melibatkan masyarakat setempat, pemerintah Indonesia, dan mitra global. Kegiatan utamanya meliputi: 

  • Penyelamatan orangutan dari perdagangan ilegal dan konflik dengan manusia.
  • Rehabilitasi dan perawatan medis.
  • Reintroduksi atau pelepasliaran kembali orangutan ke habitat alami yang aman.
  • Restorasi habitat hutan.
  • Edukasi dan pemberdayaan masyarakat lokal untuk mendukung upaya konservasi. 

Saat ini, BOS Foundation adalah organisasi non-pemerintah konservasi primata non-manusia terbesar di dunia, merawat ratusan orangutan di fasilitasnya di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.


Dengan merawat lebih dari 400 orangutan (per Juli 2021) dan mempekerjakan lebih dari 440 orang di 10 lokasi,[2] Yayasan BOS adalah lembaga swadaya masyarakat konservasi primata nonmanusia terbesar di dunia. Program Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat BOS Foundation melaksanakan pelatihan dasar pengembangan masyarakat bagi staf mereka dengan tujuan meningkatkan kapasitas dalam pendampingan desa, perencanaan tata ruang, dan pembangunan berbasis konservasi. Ini memperkuat harmoni antara upaya konservasi dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Beruang madu, jenis beruang terkecil di dunia, sangat dikenal di habitat mereka yang meliputi Kalimantan, Sumatra, dan Asia Tenggara. Subspesies yang hidup di Kalimantan adalah yang terkecil dengan berat badan betinanya kurang lebih 25 kg sementara jantannya 40 kg. Meskipun berukuran kecil, beruang madu tetap berbahaya dengan perbandingan ukuran taring terhadap ukuran tengkorak yang lebih besar daripada jenis beruang lain saat ini. Beruang madu, seperti halnya orangutan, menghabiskan waktu seharian di atas pohon sendirian. Wilayah jelajah mereka berkisar antara 7 sampai 27 km2 di hutan. Kendati beruang madu terlihat di berbagai wilayah pertanian yang berbatasan dengan hutan, bukti-bukti menunjukkan bahwa mereka lebih suka hidup di hutan yang utuh. Dan sebaliknya, hutan juga membutuhkan keberadaan mereka


Dengan kerusakan habitat alami beruang madu akibat permintaan kebutuhan dari seluruh dunia, mereka sangat tergantung pada kita untuk mengambil sikap. Kami memang mengawali dengan pelestarian orangutan, namun Borneo Orangutan Survival Foundation mengajak kalian semua untuk bersama kami mengupayakan masa depan yang lebih cerah bagi seluruh populasi beruang madu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukit Doa Kalimantan

Situs Gunung Selendang Sangasanga

Pemandian Air Panas Mahkota Dondang